Oleh: cahayaasa | September 2, 2008

Keizo Negi….RUARRR BIAZA!!!

Negi begitu biasanya Ia dipanggil, lelaki berperawakan cukup tinggi bagi ukuran orang jepang. Saya baru mengenal dia sebagai si empunya proyek statistik persampahan di Indonesia yang bekerjasama dengan KLH dan ITB. Sebelumnya saya hanya sering mendengar namanya saja di Lab B3, kesan yang saya tangkap dari mereka yang sering membicarakannya Ia adalah orang yang ”menyeramkan”. Baru satu pekan ini saya mengenalnya, namun selama satu pekan itu pula saya menderita karenanya…membuat saya dan teman-teman mengalami pengalaman pertama bergadang di kampus, dan beberapa hari bekerja hingga larut malam…saaangat melelahkan! Mengerjakan begitu banyak hitungan dalam belasan worksheet, terkadang menyebabkan ketelitian kami berkurang. Namun tentu tidak dengan Negi, dia sangat teliti sehingga berkali-kali kami terkaget-kaget, karena kesalahan kecil pun dapat ditemukannya. Sangat perfectionist dalam bekerja, sampai-sampai dosen saya, yang terbiasa bekerja dengan orang jepang pun ikut-ikutan stress dibuatnya.

Namun dibalik itu semua, saya bersyukur, saya dapat belajar mengenai profesionalitas, ketelitian dan kedisiplinan yang luar biasa darinya. Bahkan, sekilas saya dapat melihat karakter ”kesungguhan dan ketekunan” dari bahasa tubuhya, gaya duduknya, cara berjalannya serta bahasa tubuhnya ketika menulis..Subhanallah! Ternyata benar apa yang selama ini saya ketahui (orang jepang yang terkenal dengan ketekunan dan kerja kerasnya, serta pekerja yang menduduki peringkat pertama untuk banyaknya jumlah jam kerja).

Selain gaya bekerjanya yang super teliti dan super disiplin, cara dia berinteraksi dengan orang lain pun sangat sopan. Caranya ”memberikan titah” tidak arogan dan memaksa. Jika telah memberikan pekerjaan atau tugas yang memang cukup berat untuk dilakukan Ia selalu berkata ”terima kasih banyak….Sorry If I….” bahkan Ia pernah meminta maaf kepada kami ”I’m sorry if we work like a high school student”(sebenarnya kalo saya sih jadi berpikir, memangnya seperti apa kesibukan siswa SMU di Jepang??….hmmm tampak mengerikan!). Selain sopan santunnya, Ia selalu mengingat orang yang baru Ia kenal, bahkan menuliskannya dalam buku. Setiap orang yang diberi kartu nama olehnya, selalu Ia catat dalam bukunya…hmmm…sampai segitunya ya?!….Ruarrr Biaza Mr Negi!!!

Oleh: cahayaasa | September 2, 2008

Panen

Kampung Cigadoan, Tasikmalaya adalah sebuah desa dengan jarak tempuh kurang lebih 2 jam dari pusat kota Tasikmalaya. Kampung halaman, tempat Saya dilahirkan, tempat 4 tahun pertama masa kecil dihabiskan, sebelum kemudian hijrah ke kota Bandung. Sudah merupakan sebuah rutinitas, setiap satu kali dalam setahun pasti berkunjung kesana, menengok emak-bapak (nenek-kakek) serta sanak saudara. Walaupun begitu, baru kemarin ini Saya berkunjung kesana tepat ketika musim panen tiba. Wah…subhanallah….banyak membuat diri ini berefleksi jadinya….

Luar biasa melihat jerih payah para petani disana. Proses panen yang dilakukan masih manual dilakukan dengan cara ‘menggebuk’ padi hingga bulir-bulir padi itu berjatuhan. Persiapan dilakukan sedari pagi sekali, setelah subuh bekal makanan mulai dipersiapkan, kemudian peralatan untuk panen seperti arit (alat potong padi, apa ya dalam bahasa Indonesia?), tampir (untuk menyimpan bulir-bulir padi), terpal (untuk menahan bulir-bulir padi yang berjatuhan ketika di ‘gebuk’). Sekitar pukul 7 mereka baru berangkat ke sawah. Rata-rata petani di sana umurnya sudah diatas 60 tahun, para manula, (tanya kenapa?). Para pemuda disini banyak yang memilih pekerjaan lain dibandingkan harus tani (bertani) atau ngebon (berkebun). Kebanyakan para pemudanya mencari pekerjaan ke kota (pada umumnya mereka memilih kota Bandung atau Jakarta), menjadi buruh disana, atau lebih memilih nga-bordel (bekerja di tempat usaha pakaian bordir).

Hari itu kami sekeluarga berniat untuk membantu emak dan bapak panen. Bersama kedua adik, saya mendapat tugas menjaga satu petak sawah-yang sudah siap panen dari hama burung. Tidak lama setelah kami sampai di petak sawah tersebut, saya melihat mang Yoyo (paman, adik bapak) datang dari arah berlawanan. Selama ini beliau seorang dirilah yang bertugas menjaga sawah yang belum dipanen. Ternyata! Untuk menjaga padi dari hama saja sungguh bukan hal yang mudah. Dari pagi hingga sore hari kami harus terus menerus menarik tali-tali yang terbentang di sawah, untuk mencegah hama burung memakan bulir-bulir padi, sambil terus mengelilingi satu petak sawah tersebut. Karena jika kita berdiam diri di satu tempat saja, kurang mempan untuk mengusir burung-burung itu…..Urgh!…burung-burung itu gigih sekali. Burung-burung datang itu bergerombol, dengan kecepatan tinggi, terus menukik ke arah sawah…. Jika mereka gagal, sesaat kemudian mereka terbang dan menyebar hinggap di berbagai pohon di sekitar sawah, Masya Allah…luar biasa melelahkan mengusirnya!

Kami sempat berteriak memanggil emak agar tidak usah ikut-ikutan ngarit (memotong padi) panen, karena kami khawatir beliau lelah…beliau hanya menengok lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sambil berkata “teu nanaon, da emak mah tos biasa” (tidak apa-apa, karena sudah biasa). Saya tidak bisa membayangkan para petani disini termasuk emak dan emang, melakukan hal yang sama selama berminggu-minggu, dari pagi hingga sore hari.

Saat itu kuamati betul emang yang sedang berkeliling dan emak yang sedang memotong padi, mereka sungguh gigih dan tak kenal lelah….tidak hanya sawah saja yang mereka urusi, tapi juga merawat kebun salak dan kebun manggis. Melihat mereka membuat Saya berkaca diri….apakah selama ini telah maksimal mengerjakan amanah yang Allah berikan?….Apakah selama ini telah maksimal menggunakan kemampuan dan kapasitas yang Allah berikan untuk mengerjakan amanah-amanah tersebut?….karena jika tidak, selisihnya adalah dosa…ya jika kita mempunyai kemampuan untuk meraih A, tetapi jika kita hanya meraih B, maka A dikurangi B sama dengan kelalaian kita karena tidak menggunakan secara maksimal potensi yang telah Allah berikan. Astaghfirullahal ‘adzim….Ya Allah hamba mohon ampun atas kelalaian-kelalaian yang selama ini hamba lakukan…..

Oleh: cahayaasa | Mei 6, 2008

Kontemplasi…

Jalan ini begitu sulit dilalui

Ketika jiwa ini berazzam untuk tetap istiqamah

Seketika itu pula cobaan dan ujian itu tiada hentinya terus menempa…

Kita tidak akan pernah bisa bertahan!

Kita tidak akan bisa berdiri kokoh bagai karang ketika deburan ombak itu datang…

Sakitnya tidak akan tertahan…

Ketika onak kebencian serta duri kekecewan menusuk jiwa

Manisnya ukhuwah seakan tidak pernah di kecap

Hingga dada ini terasa begitu sempit…

Hingga bangunan amal jama’i pun menjadi rapuh…tak lagi kokoh…

Kita terhempas!

Oleh gelombang pasang…

Pondasi kita goyah!

Tak mampu menopang…

Perjalanan kehidupan ini memang sangat melelahkan..

Ya! Kita tidak akan pernah bisa bertahan

tanpa kekuatan ma’nawiyah….kedekatan kita pada-Nya

tanpa bingkai khusnudzan dalam beramal…

dan…tanpa sayap-sayap kesabaran serta keikhlasan dalam hati kita…

Ya Allah…perkenankan hamba meraih Ridla-Mu….

-Diatas bumi jihad yang sama-

2 Mei 2008

Oleh: cahayaasa | Mei 6, 2008

Never Ending Ukhuwah….

“Sesungguhnya Allah melihat perjuanganmu wahai pejuang…Dan Dia tidak akan menyianyiakan setiap tetes airmata, keringat, bahkan darah yang telah kau keluarkan. Tetap Semangat!! Sesungguhnya kebenaran akan menang…”

“Intanshurullaha yanshurkum-sabar…Qumillaila illa qaliila-dekatkan hati pada Allah dengan Qiyamullail qta, semoga diberi kekuatan.”

Saudaraku, terima kasih atas support dan taushiah (nasihat) yang selama ini selalu menemani perjalanananku…

Sesungguhnya dimanapun kita beraktivitas, di wajihah manapun kita memiliki muara yang sama….Semoga kebersamaan ini abadi hingga di Syurga-Nya kelak..karena cinta diantara kita adalah cinta karena-Nya.

Mari kita rajut bersama harmoni hati kita untuk membangun peradaban Islam yang kita cita-citakan…

27 Januari 2008

Kalimat di atas adalah taushiyah yang saya dapatkan ketika saya sudah hampir putus asa….(untuk mencoba kembali merajut sebuah catatan sejarah yang telah terkoyak itu!).
Walau bagaimanapun, sedalam apapun kesedihan dan kekecewaan yang ada, setiap diri kita memiliki tanggung jawab untuk memberikan dan melakukan usaha yang terbaik…. untuk Allah semata

Oleh: cahayaasa | Maret 26, 2008

Indonesia Memanggil!

Singsingkan lengan baju
Pancangkan asa
Ukirlah hari esok pertiwi jaya
Bergandengan tangan tuk meraih ridlo Allah

Buatlah negeri ini slalu tersenyum
Bahagia dan sejahtera dalam cintaNya
Tiada lagi resah tiada lagi duka lara

Negeri Indah Indonesia
Memanggil namamu…menyapa nuranimu
Negeri Indah Indonesia
Menanti hadirmu…rindukan karyamu…

Kategori